GOLODOG GOLOPRAK

Akira Day Care

akiraTAMAN PENGASUHAN & PENDIDIKAN AKIRA MENERIMA SISWA BARU.

Jl. Mekarsari I No. 11 Sukamiskin Arcamanik Kota Bandung

Tel: 082216040718

Ayo bergabung bersama kami untuk berekplorasi dan bermain. Kami menerima anak dari usia 0 bulan sampai 5 tahun. Bermain adalah cara kami belajar. Setiap hari kami mendapat hal baru yang menyenangkan. Kami tunggu ya!

1 Februari 2012 Posted by | Manajemen Anak, Pendidikan | , , , , , , , | 6 Komentar

Penerimaan Siswa Baru Day Care dan TK Islam

2 Mei 2011 Posted by | Pendidikan | , , , , , , | 1 Komentar

Apa manfaat PR untuk anak?

Sedihnya kalau melihat buah hati pulang sekolah dengan wajah berlipat-lipat. Saat ditanya mengapa wajahnya BT mereka menjawab,”banyak PR bu. dikumpulin besok lagi!”.  Ingin rasanya membantu tapi kita sendiri banyak kerjaan dan mungkin salah pemahaman serta berbeda cara mengerjakan soal bisa membuat berantakan, hasilnya PR tidak selesai. Sebenarnya PR (pekerjaan rumah) memiliki  tujuan yang baik hanya kadang guru menjadikannya sebagai pelajaran tambahan di rumah sehingga memberikan dalam jumlah banyak dan cenderung menyulitkan anak didiknya. Lalu harusnya bagaimana ya?

Tujuan pekerjaan rumah adalah:

  • melatih keterampilan berpikir siswa
  • melatih pendalaman konsep materi yang telah diajarkan

Sifat dari pekerjaan rumah:

  • menyenangkan—> siswa diajak untuk bereksperimen serta bereksplorasi tentang konsep yang telah diajarkan di lingkungan sekitar.
  • aplikatif —> siswa menemukan manfaat dari pelajaran tersebut sehingga dapat membantu orang lain atau lingkungannya.
  • proses penyelesaian masalah—> lebih menitikberatkan pada keterampilan motorik, berpikir dan sosial emosi.
  • peka terhadap lingkungan—>mengembangkan kemampuan bersosialisasi dengan masyarakat dan lingkungan, komunikasi, dan kepemimpinan.
  • merupakan media bagi anak-anak untuk mencurahkan kreativitas serta inovasi dalam penyelesaian masalah.

Bobot PR sebaiknya:

  • 20% pengulangan materi (drilling)
  • 80% mengembangkan keterampilan motorik, berpikir, sosial emosi

Bentuk PR:

  • project
  • observasi/wawancara/diskusi
  • mencoba/membantu sebuah profesi di lingkungannya
  • melakukan percobaan di rumah dengan alat yang ada
  • membuat sebuah essay disertai dokumentasi berupa foto, film, ataupun artikel lainnya
  • kunjungan ke galeri/museum/pertunjukkan seni dan musik/teater/panti asuhan/wytaguna/pondok pesantren/pasar tradisional/YPAC/panti jompo, dsb
  • menciptakan sebuah penemuan baru, dll

Tenggat waktu yang diberikan untuk menyelesaikan tugas:

  • bila bersifat drilling maka dapat dikumpulkan 2 hari kemudian
  • bila bersifat mengembangkan keterampilan maka waktunya antara 1 minggu sampai 2 minggu

Penilaian PR berorientasi pada proses bukan hasil! Jadi mintalah siswa untuk menceritakan  apa yang menjadi kendala, masalah apa saja yang mereka temukan, bagaimana mereka menyelesaikan permasalahan tersebut, siapa saja yang membantu tugas itu, bagaimana perasaan mereka, dan lain sebagainya. Jika hal ini diterapkan maka saya berpikir pekerjaan rumah akan lebih bermakna. Selain pendalaman ilmu dan peningkatan keterampilan, tugas terasa menyenangkan karena mereka dapat merasakan pengalaman belajar yang baru bukan hanya sekedar menjawab soal, mengisi angka, ataupun menghafal teori. Silahkan mencoba!

9 Januari 2010 Posted by | Kurikulum, Pendidikan | , , | 1 Komentar

MENINGKATKAN MOTIVASI GURU

Teaching is more than the presentation of  fact. Teaching is the developmnet of new ways of thinking, a development that reveals it self in increased skill with the problem of  live, in new habit of action in more desirable attitudes, in benefited personality and in an improved character. Bagaimana pendapat Anda dengan pernyataan di atas? Sungguh tugas yang luar biasa bagi seorang guru untuk dapat merealisasikan hal tersebut bagi anak didiknya. Karena begitu pentingnya peranan seorang guru maka seorang Kaisar Jepang menanyakan kepada panglima perangnya ada berapa guru yang masih hidup?.  Mungkin juga karena  apresiasi negara Jepang yang tinggi terhadap profesi guru sehingga bangsanya menjadi maju seperti ini. Bagaimana dengan kita? Apakah masih ada semangat untuk berkontribusi pada bangsa dengan menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas tinggi?! Atau masih berpikiran bahwa hasil kerja harus disesuaikan dengan pendapatan yang diterima setiap bulan? Berbicara motivsi biasanya kita mengoneksikan dengan anak didik. Padahal sebagai guru, terkadang motivasi kita pun Up and Down. Masalah yang bisa menyebabkan turunnya motivasi kerja adalah:

  • perasaan malu karena berprofesi sebagai guru
  • perasaan minder karena tingkat pendidikan yang rendah
  • suasana kerja yang tidak kondusif
  • kesempatan untuk meningkatkan kualitas pribadi yang terbatas
  • niat yang salah
  • perasaan tidak berguna karena memiliki keterampilan yang pas-pasan
  • ketidakpuasan dengan honor yang kecil
  • sulit dan tingginya kualifikasi dalam  sistem perekrutan tenaga pendidik
  • sering menemukan kegagalan dalam menjalankan profesi ini

Tanpa kita sadari, anak didik dapat dengan cepat menilai apakah kita termasuk guru yang profesional atau tidak. Indikatornya adalah melihat semangat guru dalam mengajarkan materi, wawasan dan kemampuan memberikan ulasan, menguasai IT, mampu mengambil keputusan dengan sikap percaya diri dan tepat, dapat memberikan solusi bagi permasalahan anak didik atau lingkungan kerjanya, senang humor,  serta selalu berpenampilan menarik. Guru seperti ini dapat menjadi  inspirastor, motivator, katalisator, fasilitator dan konselor  bagi siswa. Memang saat ini untuk mendapatkan The best teacher perlu dilakukan  standarisasi dan uji kompetensi. Hal ini sangat erat  kaitannya dengan pengembangan dan peningkatan kemampuan guru di era globalisasi. Untuk menghasilkan SDM yang berkualitas maka harus dididik oleh guru unggulan yang berpendidikan tinggi, kreatif, inovatif, melek IT, memiliki manajemen waktu yang efisien dan efektif serta SEJAHTERA. Mengapa kesejahteraaan sangat penting? Seorang guru yang hidupnya sejahtera, tercukupi kebutuhan dasarnya maka Ia tidak akan mudah menduakan profesi gurunya dengan yang lain. Bagaimana caranya agar motivasi itu kembali, kemudian dapat merubah performa kita menjadi guru unggulan?

  • jangan malu mengakui profesi ini terhadap siapapun,
  • hargai nilai kegagalan, karena kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda. Anggaplah kegagalan menjadi isyarat kita untuk berubah
  • miliki rasa humor
  • belajar dari pengalaman orang-orang yang sukses
  • bermain musik/mendengarkan musik/lagu atau menonton film untuk mendapatkan inspirasi
  • menjaga kebugaran tubuh dan gaya hidup yang sehat
  • terus belajar untuk menjadi lebih baik setiap saat
  • selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki agar bahagia
  • tingkatkan kemauan dan kemampuan untuk melihat peluang pada profesi yang dijalani

Semoga kita termasuk ke dalam komunitas PAHLAWAN PENDIDIKAN yang menjadi AGEN PERUBAHAN bagi kemajuan anak didik  INDONESIA!.

11 Desember 2009 Posted by | Keterampilan Mengajar, Manajemen Anak, Pendidikan | , , , , | 4 Komentar

TANTANGAN PROFESIONALISME GURU

Semua guru pasti merasa senang saat diberi apresiasi sebagai GURU PROFESIONAL. Berbagai usaha dilakukan agar pekerjaan ini diakui sebagai sebuah profesi yang profesional. Usaha tersebut seperti melanjutkan pendidikan S1-S2, mengikuti sertifikasi, sering mengikuti pelatihan lokal/nasional/internasional, menulis buku/jurnal, memberi pelatihan dan lain sebagainya. Tapi apakah profesionalisme hanya diukur melalui itu semua? Harus diakui bahwa semua hal yang telah disebutkan di atas masih belum terlihat bukti di lapangan. Kadang sebagai pendidik saya sering tergelitik melihat status profesionalisme identik dengan naiknya gaji/tunjangan fungsional atau posisi struktural seorang guru di tempat mengajar/administrasi pemerintah. Tidak mengherankan progres kualitas pendidikan Indonesia sangat lambat.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan profesionalisme? Profesi berasal dari bahasa Inggris Profession yang berarti pernyataan atau panggilan bahwa seseorang akan mengabdikan diri terhadap suatu pekerjaan secara sungguh-sungguh sebagai karir sepanjang hayat. Oleh karenanya untuk mencapai profesional maka pekerjaan tersebut memiliki kompetensi dan kualifikasi berupa:

  • kompetensi yang mengacu pada kadar kemampuan seorang guru dalam melakukan pekerjaan yang menjadi tugas utamanya yaitu mengajar (UU no. 20/2003: kompetensi akademik, pedagogik, sosial dan kepribadian)
  • kualifikasi mengacu pada jenjang pendidikan, jabatan fungsional, dan pangkat golongan yang dimiliki guru berkaitan dengan tuntutan pelaksanaan tugas/karir,

Dalam menjalankan profesi guru maka sudah semestinya semua guru memiliki spirit profesional berupa:

  • otonomi dalam menentukan  tindakan terbaik yang didasari oleh teori dan konsep yang secara terus menerus divalidasi secara empirik,
  • self renewal capacity yaitu kapasitas untuk selalu menyempurnakan/memperbaiki pekerjaannya melalui belajar/refleksi agar dapat memberikan pelayanan terbaik kepada peserta didik.

Mengacu kepada spirit profesional berupa memberikan pelayanan terhadap peserta didik, ternyata banyak terjadi penyimpangan yang kita temukan di dalam kelas berupa:

1. Kekerasan kognitif:

  • Memberikan materi tanpa melihat kapasitas anak. Guru menganggap bahwa kemampuan kognitif semua siswa sama sehingga materi, penilaian dan metode pengajaran diberikan dengan sama rata. Pendidik tidak memerhatikan keunikan, gaya belajar dan kemampuan daya serap materi dari setiap siswa. Akibatnya siswa banyak yang frustasi dan tidak bisa mencapai KKM yang ditetapkan. Belum lagi stigma buruk akan segera menempel pada mereka saat guru merasa kesulitan mendidik dan mengajarkan materi kepada siswa yang bersangkutan.
  • Mengancam anak didik dengan memberikan nilai buruk/mengurangi nilai apabila berperilaku tidak sesuai dengan harapan guru. Sebenarnya penilaian akademik tidak dapat dicampuri dengan perilaku karena memiliki kriteria dan kompetensi berbeda.

2. Kekerasan afeksi

  • Siswa mengadopsi perilaku yang salah dari guru. Namun hukuman berlaku untuk siswa bukan untuk gurunya. Seperti kasus siswa tidak boleh merokok di sekolah tetapi banyak para guru merokok di ruangan guru/sekolah.

3. Kekerasan psikomotorik

  • Memberikan contoh cara yang salah dalam melakukan gerakan, sehingga kesalahan konsep tersebut dilakukan oleh anak.

Sungguh miris membacanya tapi itulah kenyataan yang terjadi di dunia pendidikan Indonesia. Sumber penyimpangan profesi ini adalah akibat dari:

  • kurangnya pemahaman/pengetahuan yang tepat tentang apa yang dilakukan (WHAT, WHY DAN HOW)
  • kurangnya fasilitas dan sumber daya
  • dukungan kuat dari kepemimpinan pendidikan setermpat
  • kurangnya pengakuan terhadap seseorang yang melakukan hal benar/baik
  • kontrol dari organisasi profesi dan masyarakat yang masih kurang,
  • apresiasi pemerintah terhadap profesi ini yang belum optimal.

Dampaknya pada siswa adalah mereka tidak termotivasi untuk mengikuti proses belajar mengajar di sekolah.  Dari uraian di atas kita menjadi tertantang untuk menghilangkan hambatan keprofesionalan guru. Mari kita merubah citra guru dengan standar seadanya menjadi standar luar biasa melalui cara:

  1. Peduli untuk melakukan kajian nilai-nilai kemanusiaan, nilai falsafah bangsa dan budaya lokal,
  2. Berinovasi dalam melakukan kajian kurikulum dan materi yang diberikan kepada siswa,
  3. Aktif mengimplementasikan hasil pelatihan dan pendidikan secara konsisten terhadap diri sendiri dan profesi,
  4. Berani mengembangkan metode pembelajaran yang kreatif dan mengaplikasikannya bersama rekan seprofesi dan siswa,
  5. Gemar melakukan refleksi dan evaluasi kompetensi diri sebagai seorang pendidik.

Hal ini menjadi bagian dari tanggung jawab terhadap profesi ini.  Tanggung jawab profesi ini yaitu:

  • menjamin pelayanan prima terhadap siswa
  • melindungi siswa dari tindakan yang merugikan
  • membangun komunikasi yang sehat di antara pendidik dan  peserta didik
  • memelihara kepercayaan publik
  • akuntanbilitas mengajar (sertifikasi)

Ayo, GURU! Jadikan profesi ini sebagai profesi yang MULIA dan BERMANFAAT karena kita akan mempertanggung jawabkanya  dihadapan Yang Maha Kuasa.

Note:

Artikel lain kunjungi http://mutiaraendah.wordpress.com

11 Desember 2009 Posted by | Keterampilan Mengajar, Pendidikan | , , | Tinggalkan komentar