GOLODOG GOLOPRAK

Me and Linux

xandrosSaya mulai kenal linux dari majalah Infokomputer sekitar tahun 2001. Saat itu saya rajin “hunting” majalah bekas-nya di sepanjang Jl. Cikapundung depan Gedung PLN Bandung. Mulai harga 7rb-an.

Setelah ke sini-sini saya pikir lebih baik langgangan. Sempat langganan selama setahun.

Kemudian selain itu juga beli eceran majalah Info Linux edisi ekonomis sejak edisi 3/2007, walau tidak setiap bulan.  Dipilih edisi yang menarik dan cocok.

Sebenarnya selain isi majalah, yang diincar adalah isi CD atau DVD-nya.  Lumayan gak usah download, mulai antivirus, software freeware, shareware dan yang paling ditunggu adalah file iso distro linux.

Yang pertama kali berhasil saya instal di komputer adalah XandrOS ver. 3 (http://www.xandros.com) sekitar tahun 2003, saya beli di lapak jualan CD program di depan ITB, Jalan Ganesha.

knoppixSetelah itu tahun 2005, Knoppix 3.8 (http://www.knoppix.org), pelopor LiveCD. Gak usah diinstal. Saya sangat terkesan akan fungsionalitasnya.  Adik saya pernah kehilangan file foto dalam UFD karena virus. Dengan Knoppix file tersebut ternyata masih ada dan bisa digunakan kembali.

Setelah itu coba:

  • Ubuntu, Edubuntu dan turunannya
  • IGOS Nusantara
  • Fedora Core
  • Zenwalk
  • Slackware
  • FreeNas
  • Zencafe
  • Blankon
  • PC/OS Linux
  • PCLinuxOS
  • GeeXBox
  • Debian
  • Linux Mint
  • gOS
  • Slax
  • openSUSE
  • Puppy
  • PartedMagic

Yang paling “sesuai” untuk saya (subyektif) mungkin hanya empat:

1. Puppy: paling ringan, paling cepat, paling lengkap, paling gampang diinstal, mengelola partisi dengan GParted, koneksi internet sangat mudah

2. PartedMagic: sangat powerfull untuk pekerjaan dengan harddisk: mengelola partisi, backup/restore, recover lost partisi dan file.

3. openSUSE: “made in germany”, aplikasi sangat lengkap, cocok banget untuk notebook benq R41E bermesin VIA (menemani saat ubuntu bermasalah dengan grafis VIA)

4. Ubuntu: memerlukan spek komputer tinggi. Dokumentasi sangat lengkap. Karena sangat gampang diinstal maka sangat simpel hasilnya, hingga kelabakan untuk  nambah aplikasi, padahal untuk itu butuh koneksi internet  atau harus pasang repositori lokal dulu untuk melengkapinya.

Terima kasih Linux…

7 Januari 2010 - Posted by | Komputer, Linux, Pengalaman | , ,

2 Komentar »

  1. Wah..untuk menemukan yang pas itu memang enaknya nyicip langsung ya. Saya juga awalnya teracuni linux karena majalah InfoLinux itu. Sempat nyicip beberapa juga walau ngga seganas daftar di atas.😀

    Komentar oleh dani | 14 Januari 2010 | Balas

  2. benul, dulu instal ulang terus, walau tak sampai hardisk-nya menjerit…sekarang lebih santai, pake vmware saja…

    Komentar oleh Agus RN | 14 Januari 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: