GOLODOG GOLOPRAK

KOMUNIKASI EFEKTIF UNTUK GENERASI & MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

Beberapa hari yang lalu saya mengikuti seminar tentang komunikasi efektif antara orang tua dan anak dalam merencanakan masa depan anak. Bersama dengan beliau saya selalu menemukan hal baru yang  mengasah keterampilan saya sebagai orang tua. Isinya sederhana tapi saat diulas saya sempat terhenyak dan merenungkan apa yang telah saya lakukan selama ini kepada anak saya?Ternyata penyimpangan perilaku pada anak saat ini dimulai dari ketidak sengajaan dalam berkomunikasi (salah ngomong). Penelitian di sebuah negara menyebutkan bahwa kecanduan pornografi, narkoba, hamil di luar nikah, perceraian di pernikahan muda diakibatkan oleh kesalahan dalam berkomunikasi.  Mari kita bahas materi tersebut.

Anak sebaiknya dibekali dengan 3 keterampilan:

  1. keterampilan dasar yaitu baca, tulis, dan hitung
  2. keterampilan berpikir yaitu memecahkan masalah, mengetahui cara bekerja, berani mengambil keputusan, kemampuan berimaginasi, kemampuan mengemukakan alasan  (logika)
  3. keterampilan kepribadian yaitu keimanan, harga diri, kemandirian, tanggung jawab individu dan sosial, berkomunikasi, kekokohan pribadi, mencari dan mengumpulkan informasi, membentuk dan menggunakan sistem, memahami dan mampu menggunakan teknologi, mengelola sumber daya.

Keterampilan di atas sangat penting dimiliki oleh anak untuk bisa bertahan dan beradaptasi dengan jamannya. Bagaimana dengan kita? sudahkah kita membekali mereka dengan 3 keterampilan di atas? Selama ini kita lebih cenderung memberikan keterampilan dasar baca tulis hitung. Sejak TK anak sudah harus bisa baca dan tulis, dari SD sampai SMP anak kita harus banyak mengikuti berbagai les agar dapat menunjang prestasi di sekolah, saat SMA kita memaksa anak untuk masuk ke perguruan tinggi tertentu dengan jurusan yang bergengsi. Semuanya selalu kita yang menentukan tapi tidak pernah menanyakan apa yang mereka inginkan. Bila anak menolak atau prestasinya tidak sesuai dengan harapan kita,  maka sebagai orang tua cenderung:

  • marah
  • mengkritik
  • membandingkan
  • memerintah
  • memberikan label si..
  • mengancam
  • menyindir
  • sok menasehati
  • sok menganalisa
  • sok tau (karena merasa sok tua)

Akibat dari  kebiasaan orang tua bersikap seperti itu membuat anak tidak betah di rumah, mencari simpati dari orang lain yang bisa mendengarkan curhatan mereka, mencari lingkungan pergaulan yang bebas untuk berekspresi tanpa berpikir resikonya. Selain itu pengaruh ke dalam sisi kejiwaan dan perilaku anak adalah:

  1. melemahnya konsep diri (emosi labil)
  2. membuat anak diam, melawan, menentang, tidak peduli, atau sulit kerja sama
  3. menjatuhkan harga diri dan kepercayaan diri anak
  4. kemampuan berpikir rendah
  5. tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
  6. selalu iri kepada orang lain

10 kekeliruan dalam berkomunikasi adalah:

  1. bicara kita tergesa-gesa
  2. tidak mengenal diri sendiri dan orang lain
  3. melupakan keunikan setiap anak
  4. tidak bisa membedakan antara kebutuhan dan keinginan
  5. tidak bisa membaca bahasa tubuh
  6. kurang mendengar perasaan
  7. kurang mendengar aktif ( mendengar dengan empati)
  8. selalu reaktif dan menggunakan cara-cara marah gaya lama
  9. tidak bisa memisahkan masalah siapa?
  10. selalu menyampaikan pesan Kamu harus….

Yang sebaiknya dilakukan oleh orang tua saat berkomunikasi dengan anak adalah:

  1. Bicara dengan tenang dan sampaikan tujuan pembicaraan.
  2. Gunakan kalimat yang  jelas dan tidak lebih dari 15 kata dalam satu kalimat. Contoh:

Seorang remaja yang kamarnya berantakan sementara anda menyukai               kamar  yang rapi dan bersih. Maka katakan kepadanya,”Mama ingin                     kamu membereskan kamar ini sebelum pergi ke sekolah”.

Bila si anak  tidak bisa melakukan saat itu,  anda dapat mengatakan,                      “Baiklah, kamu dapat melakukannya  saat pulang sekolah. Nanti mama                 periksa”.

3. Baca bahasa tubuh anak saat menghadapi sebuah masalah.

4. Jangkau perasaan mereka dan pahami kebutuhan/keinginannya.

5. Jangan mematahkan harapan/cita-cita anak yang menurut kita ganjil/                aneh. Biarkan saja karena harapan mereka akan segera berubah setiap 6            bulan.

6. Selami dunia imaginasi anak dan belajarlah bersama mereka.

7. Ajarkan anak untuk menerima konsekuensi dari sebuah aturan yang                   dilanggar.

8. Ajarkan anak untuk membuat perencanaan dalam segala hal dan                            menepatinya. Berikan waktu yang cukup bagi mereka untuk berpikir saat          mengemukakan alasan/ide.

9. Jangan menasehati anak saat mereka mendapatkan masalah. Biarkan                  sampai mereka tenang dan melepaskan masalahnya baru diberi                              nasehat.

10. Mendengarkan anak dengan berempati. Misalnya saat anak kita kesal,                 komentarnya adalah “tampaknya kamu sedang marah/kecewa”.                             Kemudian saat anak bercerita kita menyatakan ooh begitu, terus                           bagaimana perasaanmu saat itu? pasti kamu…..ya? sedih bener dong,                 pasti kamu kecewa/marah, dll.

11.  Berikan kesempatan pada mereka untuk memecahkan masalah sendiri               dengan berpikir,  mengambil keputusan. Jangan terlalu sering dibantu               biarkan mereka  untuk mandiri dan bertanggung jawab.

12. Saat ada sebuah contoh masalah/ akan memberikan solusi tanyakan                    bagaimana menurutmu? Libatkan mereka dalam membahas                                    persoalan  yang terjadi di lingkungan atau keluarga. Hal ini dapat                          mengasah keterampilan mereka dalam empati dan kepekaan sosial.

13. Saat kita marah sampaikan alasannya dan harapan anda, bukan kamu            harus…atau pokoknya kamu harus_____. Marah tanpa alasan yang        jelas akan membingungkan anak karena mereka tidak mengerti. Cara                    seperti ini dapat membuat anak hanya menangkap kemarahan tanpa                  belajar memaknai alasannya.

Bila kita mampu melakukan hal di atas maka sebenarnya kita telah mengajarkan kepada anak cara pengelolaan emosi.  Dampaknya anak belajar tentang:

1. self confidence/self esteem—————> bagaimana cara menghargai diri

2. self image/self worth—————–> bagaimana cara melihat  diri

3. self concept—————->bagaimana merasa menjadi diri sendiri

Cara inipun dapat dilakukan oleh guru apabila menghadapi anak didik yang marah/moody/kesal. Semoga bermanfaat!

16 Desember 2009 - Posted by | Manajemen Anak, Pendidikan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: